Dehidrasi vs overhidrasi? Mana yang lebih berbahaya?

dehidrasi-overhidrasi

Istilah dehidrasi mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pelari, begitu juga dengan overhidrasi. Dehidrasi adalah keadaan dimana seseorang kekurangan cairan dalam tubuh terutama air sedangkan overhidrasi adalah kebalikan dari dehidrasi, keadaan dimana tubuh seseorang kelebihan cairan.

Bagaimana cara mengenali dehidrasi dan overhidrasi?

Mungkin sebagian dari kalian pernah mengalaminya. Gejala dehidrasi yang paling utama adalah haus, selain itu juga mual, pusing, diare, mulut atau bibir kering, pingsan dan koma.

Gejala overhidrasi hampir sama dengan dehidrasi, diantaranya mual, muntah, bingung/disorientasi, otot melemah, sakit kepala. Dan jika berkelanjutan overhidrasi akan mengakibatkan otot melemah, kejang, kram, tidak sadar dan koma.

Mengapa dehidrasi dan overhidrasi berbahaya?

Pada saat tubuh dehidrasi, volume darah dan  produksi keringat menurun, dan suhu tubuh meningkat. Untuk menurunkan suhu tubuh, tubuh mengirimkan lebih banyak darah ke kulit untuk melepaskan panas melalui keringat, akibatnya cairan dalam tubuh yang berfungsi menghantarkan oksigen ke otak, otot, paru-paru semakin berkurang. Dan timbullah gejala pusing, kejang otot dan lemah.

Sedangkan pada overhidrasi, bisa disebabkan oleh dua kondisi. Pada kondisi yang pertama, saat melakukan latihan yang berat seperti marathon,  tubuh akan kehilangan sodium melalui keringat. Jika pada saat sodium dalam tubuh tidak digantikan tetapi air yang dikonsumsi berlebihan, kadar sodium dan air dalam darah menjadi tidak seimbang, hal ini akan menyebabkan keracunan air atau hiponatremia.

Pada kondisi kedua, minum berlebih diluar kemampuan memproses ginjal dapat mengakibatkan tertahannya air di dalam tubuh. Dan ketika tubuh tidak bisa mengeluarkan air yang berlebih di dalam tubuh, kadar sodium dalam darah menjadi kurang dan tidak seimbang, yang juga mengakibatkan hiponatremia.

Pada tingkat yang akut, hiponatremia dapat menyebabkan kejang, pembengkakan pada otak, pulmonary edema (pembengkakan atau akumulasi cairan pada paru-paru), cardiorespiratory arrest (berhentinya fungsi jantung secara mendadak), koma dan kematian.

Diantara keduanya, mana yang lebih berbahaya?

Baik dehidrasi maupun overhidrasi, keduanya dapat membahayakan jiwa. Tetapi pada kenyataanya overhidrasi lebih membahayakan dibanding dehidrasi, karena pada saat tubuh berkeringat, kadar sodium dalam tubuh berkurang, dan konsumsi air yang banyak memicu sodium dalam darah semakin menurun. Dan umumnya pelari jarak jauh seperti marathon berusaha mengurangi dehidrasi, dengan membawa berliter air dibackpack dan banyak minum disetiap depot air. Akhirnya overhidrasi lebih sering dialami pelari marathon. Karena gejala overhidrasi yang mirip dengan dehidrasi, overhidrasi sering diasumsikan sebagai dehidrasi. Sedangkan pada dehidrasi, hanya dengan merasakan haus orang akan menyadari dirinya mengalami dehidrasi.

Untuk level yang akut, overhidrasi dapat menyebabkan kematian, seperti kasus yang terjadi di Boston Marathon tahun 2002. Seorang pelari wanita meninggal karena overhidrasi.

Bagaimana cara untuk menghindari dehidrasi atau overhidrasi?

Minum air sejam sebelum berlari, timbang berat badan kamu sebelum dan sesudah lari, kenaikan dan penurunan berat badan didalam batas 2.2% berat badan sebelum berlari termasuk normal. Dan minumlah pada saat kamu merasa haus, karena haus menandakan dehidrasi.

Banyaknya air yang diminum tergantung banyaknya keringat yang dikeluarkan. Umumnya pada pria, ginjal dapat memproses cairan sekitar 800 ml/jam dan pada wanita mendekati 600 ml/jam. Jadi dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi air diluar kemampuan kerja ginjal.

 

Referensi:

http://www.active.com/running/articles/what-you-need-to-know-about-runner-hydration

http://running.competitor.com/2014/05/nutrition/the-truth-about-dehydration-and-performance_76027

http://www.webmd.com/a-to-z-guides/dehydration-adults?

http://www.beverageinstituteindonesia.org/article/hydration-for-athletes-special-considerations/